Pikirannya Via Saat Ini

aku: i’ve been thinking..

aku: about human lives

aku: time is so short

aku: time is flee

aku: what if..

aku: there’s no chance anymore

aku: chance

aku: what a bittersweet terminology

dia: Maksudnya??

dia: Baru bangun ini… Susah sekali..

dia: Berat..

dia: Itu jg yg belakangan ini gw ngerasa

dia: Sebelum ada gempa

dia: What if my time is short?

dia: What if “this is my time”

dia: So I decided 2 chance..

dia: Sedikit si… Maksud gw blm banyak

dia: Tp tekad gw bulet

dia: Eh eh…

dia: Kmrn gw ngbrl sama org

dia: Blm pernah ktm sebelumnya

dia: Br ngbrl

dia: I said, gw bkn org yg suka ngmg

dia: Pembicara pasif

dia: Trus dy bilang

dia: Lo tempramental dan ga sabaran

dia: Hahaha… Bnr bgt dy

dia: I try 2 change lil bit gak sabarannya gw dan egoisnya gw

dia: 4 my own sake

dia: And I try to care.. Lil bit 4 whom care 4 me

aku: i learn bout..

aku: a domino effect

aku: an event will causes another

aku: will causes to another

aku: gue tu selalu menemukan diri gue sangat labil

aku: berubah-berubah

aku: ngga stabil

aku: kaya anak kecil

aku: satu perkara bisa bikin gue bersikap begini

aku: nanti dateng perkara lain tiba-tiba gue bersikap begitu

aku: jadi gada prinsip

aku: do u know that the most vulnerable person is the strongest person in their friends eyes?

aku: i want to learn how to care about person who hates us

aku: who doesn’t care

dia: Wooow…

dia: Lo bener2 menguji batas kebesaran hati lo kalo gt

dia: Bagi gw si stabil2 aja yah

dia: Bukannya gak punya prinsip kali

dia: Tiap masalah kan punya solusi yg beda2

dia: Mngkn lo hanya ngikutin itu

dia: Fleksibel, adapt

dia: Bukan labil

dia: Nanti kl lama blsnya itu krn gw lagi mau siap2

dia: Mau ke bintaro

aku: makasi udah ngeliat kekurangan gue dari sisi yang berbeda

aku: :)

aku: that was made a good effect on me

aku: ok..have a safe drive

aku: it’s always you

aku: who can always sees me

dia: Tapi gw gak mengerti lo kan??

dia: Dalam hal itu, gw mau liatnya dlm pandang gw aja

dia: Gw mau belajar utk ngerti lo

dia: Ga mau maksa diri lo, jd apa yg gw mau

dia: U’ve been great to me

aku: lo ngerti gue kok

aku: ngga mungkin ada orang yang ngabisin 1/3 hidupnya dengan orang yg ngga ngertiin dia

that was my instant messaging with a friend. .

Kenapa gue berpikir tentang “time”dan “chance”?

Sejak ada gempa di Tasik sama di Padang kemaren, orang-orang jadi pada care sama “time” dan “chance”. Status facebook mendadak “tobat”. Gue cuma mikir yah, apakah isu seperti ini akan bertahan lama? Atau bakalan ilang kalo ngga ada kejadian bencana lagi? Masa iya yah kita mesti “dikasi” bencana dulu biar sadar? Mau berapa banyak bencana lagi?

I learn that an event will lead to another. Gara-gara gempa, orang banyak yang mulai “mikir”, mulai tumbuh rasa peduli terhadap orang lain, mulai menghargai hidup dan kesempatan yang diberikan. Gara-gara tari pendet diklaim Malaysia, orang Indonesia banyak yang mulai “ngeliat” ke dalem, ke negeri sendiri, mulai menghargai budaya, dan besok—sebagaimana gembar-gembornya—banyak yang udah janji mau pake batik dalam rangka Hari Batik Sedunia. Gara-gara sakit, orang mulai sadar pentingnya hidup sehat, pentingnya makan, pentingnya istirahat. Gara-gara marah dan banyak orang mulai beranjak meninggalkan dia, orang tuh jadi ngerti pentingnya temen, ngerti pentingnya orang lain.

Gue jadi mikirnya, masa sih semua tingkah laku kita “hanya” sebagai result atau reaksi atas apa yang terjadi pada kita? Artinya, kita tadinya ngga tau kalo, misalnya, hidup itu berharga, sehat itu berharga, budaya bangsa itu berharga, temen itu berharga… masa sih, agar kita tuh SADAR, mesti ada “korban” dulu yah? Korban nyawa, korban harta, korban harga diri, korban pikiran…

Hmmm…

Gue rasa it’s time to take some action. Some initial action. Ngga usah tunggu ada kejadian ini itu. Toh sebenernya kita tuh TAU bahwa hidup itu berharga, sehat itu berharga, budaya bangsa itu berharga, temen itu berharga, waktu itu berharga, dan kesempatan itu adalah barang mahal.

Kesempatan itu sendiri, bagi gue itu kayak pedang bermata dua. Kita bisa pake dia buat berubah atau kita bisa pake dia untuk bertahan lebih lama lagi di tempat yang sama. Jadi, kalo gue masi dikasi kesempatan, it’s always hard for me to choose, to change and move on or to stay longer.

That’s why I called it bittersweet.

Serius amat gua ya…hehehheehehee…

But, yeahh.. I think we have to take an action. Treasure life, treasure health, treasure our culture, treasure people in your life, treasure bitterness and sweetness and every lesson that they bring…

Because that’s the only thing we can do.